Senin, 15 Agustus 2011

EKOLOGI INDUSTRI


PENDAHULUAN  

Tingkat Konsumsi Masyarakat dan Pembangunan Berkelanjutan
Pada awal manusia diciptakan, yaitu pada jaman Manusia huntergatherer (berburu dan meramu), seperti halnya spesies yang lain, manusia hanya mengambil apa yang telah disediakan oleh alam. Mulai timbul masalah ketika sumber daya menjadi langka sedangkan manusia terus berkembang. Timbul ide untuk mengatasi masalh tersebut dengan memodifikasi lingkungan local mereka untuk meningkatkan produktifitas, yaitu melalui transisi dari masyarakat pemburu-pengumpul menjadi masyarakat yang menetap dan bertani. Bahkan sebelum munculnya pertanian, mereka memulai modifikasi melalui penggunaan api.
            Pertanian dan penggembalaan makin memperluas modifikasi dan kontrol masyarakat terhadap sistem alam untuk mengatasi keterbatasan pasokan alam dan bahkan menghasilkan lebih banyak dari apa yang manusia dikehendaki, sehingga beberapa jenis produksi tersedia untuk kapasitas perdagangan. Dengan perkembangan perdagangan dan pangsa pasar, pertanian dan jenis output yang dihasilkan dikonversikan ke dalam produk barang (atau jasa) lain sehingga mempunyai nilai lebih untuk dapat ditukar dengan sesuatu yang lain. Dan kebutuhan manusia menjadi makin eksplosif seiring dengan pertumbuhan populasi manusia. Permintaan konsumen masyarakat dipenuhi oleh serangkaian luas produk – barang dan jasa yang harus dihasilkan oleh sistem industri. Sesuai dengan perkembangan jaman, jenis dan volume kebutuhan tersebut menjadi makin bervariasi seiring persyaratan kelangsungan hidup fisik yang juga makin bervariasi di masa modern ini, sehingga memunculkan konsep rancangan proses industry yang berbeda-beda. Beberapa bahan dirancang khusus untuk meningkatkan fungsi produk. Bahkan, dalam beberapa kasus, pengembangan produk baru hanya dimungkinkan oleh pengembangan bahan-bahan baru juga, yang pada gilirannya sering memerlukan pengembangan proses industry yang baru. Sementara aliran massa dan energi dalam alam ini sebagian besar ditentukan oleh konsumsi sumber daya untuk pasokan energi dan nutrisi, berbanding terbalik dengan kemampuan alam untuk menyediakan bahan baku produksi. Selain karena volume produk-produk konsumen memerlukan sumber daya yang beragam, juga, alam harus menghadapi aliran bahan dan produk baru yang memiliki sifat yang tidak diinginkan seperti toksisitas atau non-biodegradable yang menurunkan kualitas lingkungan. Bahan dan produk ini adalah keluaran dari apa yang sering disebut sebagai multi-tahap produksi yang dilakukan dalam system industry.
Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan satu cara pengontrolan yang lebih baik untuk menjamin ketersediaan sumber daya alam sebagai bahan baku pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak akan pernah berhenti, dan juga untuk tetap mempertahankan daya dukung lingkungan terhadap kehidupan manusia. Salah satunya adalah dengan pengembangan dan penerapan konsep Ekologi Industri.
Konsep Ekologi Industri terutama berfokus pada masalah pengurangan dampak lingkungan karena penggunaan energy dan material dalam proses produksi dengan cara meningkatkan effisiensi proses produksi. Beberapa ahli kologi industry menyatakan bahwa input/aliran material dapat dikurangi empat sampai sepuluh kali lipat tanpa mengurangi pertumbuhan ekonomi.

PENGERTIAN EKOLOGI INDUSTRI

Frosh mendefinisikan ekologi industry sebagai jaringan dari keseluruhan proses industry yang saling berinteraksi dan saling menghidupkan satu sama lain, bukan hanya dari segi ekonomi melainkan juga dalam hal pemanfaatan limbah dari suatu proses sebagai energy dan material dari proses yang lain. Sedangkan menurut US EPA (Environmental Protection Agency), industrial ecology is a systems approach to efficient resource use and protection of the environment. Instead of just devising improved methods of waste treatment and disposal, we look for the best opportunities to reduce waste throughout the total material cycle from virgin materials to finished products to end of product life. Instead of controlling industrial pollutants from different sources one by one at different times and with different technologies, we try to look across whole facilities, regions, and even whole industries and make changes wherever in the system it is most effective to do so.
Dari kedua definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa ekologi industry adalah sebuah SISTEM, dimana didalamnya terdapat :
- Aliran energy
- Aliran massa
- Proses-proses
- Interaksi antar proses
Selain itu, penyusunan konsep ekologi industry harus didasari dengan ilmu dan teknologi yang cukup untuk menjamin bahwa konsep ekologi industry dapat meningkatkan efisiensi proses produksi dan mengurangi produksi limbah yang dilepas ke lingkungan.

DASAR-DASAR EKOLOGI INDUSTRI


1.      PENGERTIAN EKOLOGI

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan berdasarkan prakarsa biolog Jerman yaitu Ernest Haeckel (1834 – 1919) pada tahun 1860. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “oikos” yang berarti rumah, tempat tinggal, habitat dan “logos” yang berarti ilmu. Secara harfiah ekologi adalah ilmu tentang mahkluk hidup dalam rumahnya, atau dapat diartikan juga sebagai ilmu tentang rumah tangga mahluk hidup. Banyak yeng mendifinisikan ekologi, menurut Kendeiihgh (1980) ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme yang satu dengan yang lainnya. Di dalam Webmaster Unabridged Dictionary, ekologi disebut sebagai totalitas atau pola hubungan antara organisme-organisme dengan lingkungannya. Lingkungan di sini adalah gabungan dari komponen fisik maupun hayati yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme. Menurut Miller (1975), ekologi adalah ilmu mengenai hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya dan menurut Odum, (1971) ekologi adalah suatu studi yang mempelajari struktur dan fungsi ekosistem. Struktur di sini menunjukan suatu keadaan atau susunan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Keadaan itu termasuk kepadatan/kerapatan, biomassa, penyebaran potensi unsur-unsur hara, energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menberi karakteristik kondisi sistem tersebut yang kadang-kadang mengalami perubahan. Sedangkan fungsinya menggambarkan peran setiap komponen yang ada dalam sistem ekologi atau ekosistem. Jadi pokok utama ekologi adalah bagaimana interaksi fungsi masing-masing organisme sesuai dengan kondisi yang ada di alam, dimana kondisi tersebut selalu berubah/tidak pernah sama. Kondisi alam/ekosistem yang selalu berubah tersebut disebabkan oleh adanya akumulasi masalah yang memang telah lama ada sebagai efek dari peningkatan populasi manusia. Manusia berkembang dengan sangat cepat dan kita sebagai manusia seharusnya menyadari tentang dampak perkembangan populasi manusia terhadap organisme lain di alam ini.
Peningkatan populasi manusia berarti peningkatan kebutuhan hidup. Peningkatan kebutuhan hidup berarti bahwa kita memerlukan peningkatan dan pertumbuhan industry untuk mensuplay berbagai kebutuhan tersebut, sedangkan adanya masalah lingkungan berarti kita membutuhkan suatu ilmu untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan tersebut. Paduan antara ilmu dan industry tersebut tercermin dalam konsep ekologi industry. Konsep tersebut mempelajari mengenai pengurangan emisi, polusi, dan pemanfaatan limbah suatu industry sebagai bahan baku produksi produksi yang lain, serta mengendalikan tingkat konsumsi sumber daya. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan manusia dan masalah-masalah lingkungan dapat diperhatikan secara keseluruhan dan simultan.

2.      MATERIAL FLOW ANALYSIS (MFA / Analisa Aliran Bahan)

Ekologi Industri terutama berkaitan dengan mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan energi dan bahan dalam proses produksi untuk meningkatkan efisiensi. Untuk selanjutnya, ekologi industry ini dapat digunakan sebagai sumber masukan untuk pengambilan keputusan tentang system industry oleh pihak-pihak yang berkepentingan mengenai ekstraksi sumber daya, pabrikasi, dan distribusi produk. Konsep ekologi industry dapat digunakan sebagai dasar pengambilan data mengenai perilaku system dan untuk mengembangkan konsep dan metode analisis antar industry pada tingkat system. Kegiatan paling mendasar dalam pembuatan konsep dan desain ekologi industry adalah mengumpulkan data untuk menggambarkan aliran energi dan bahan-bahan di seluruh system produksi, atau sering disebut sebagai Analisa Aliran Bahan, atau Material Flow Analysis. Konvensi dan prosedur yang telah dikembangkan untuk melakukan MFA, mirip dengan studi tentang siklus hara dalam ekologi. Tujuan dari studi MFA adalah untuk mengukur arus materi yang mengalir dalam proses sehingga dapat digunakan sebagai langkah untuk memberikan masukan atau saran untuk perbaikan model sistem industry. MFA dibuat meliputi seluruh konteks siklus suatu produk, mulai dari ekstraksi sumber daya, pengolahan sumber daya, fabrikasi produk, pemanfaatannya, penggunaan kembali, daur ulang dan pembuangannya.
Contoh : MFA untuk tembaga
 
Penggambaran siklus global tembaga yang ditunjukkan dalam gambar diatas mengingatkan kita pada ilustrasi siklus karbon dalam sistem ekologi, tapi secara lebih dekat ditunjukkan bahwa siklus tembaga tidak seefisien siklus karbon. Masih terdapat fraksi yang signifikan dari tembaga yang tidak dapat di daur ulang, tetapi dibuang dalam reservoirs.
MFA dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengkuantifikasi arus-arus material dan enery utama yang mengalir dalam proses. Identifikasi dan kuantifikasi arus-arus ini merupakan dasar untuk melakukan perubahan terhadap system yang sudah ada. Perubahan system tersebut dilakukan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dengan membuatnya lebih efisien dalam penggunaan sumber daya. MFA dapat mengarahkan sistem untuk meningkatkan kinerjanya dengan penentuan penghitungan limbah yang hilang dalam system.
Beragam studi menggarisbawahi, MFA akan semakin bervariasi dengan semakin banyaknya bahan yang berbeda-beda, dengan sifatnya masing-masing, yang digunakan dalam system industri kontemporer untuk mendukung besarnya jumlah produk yang diperlukan oleh konsumen. Selain itu, juga karena sumber daya yang diperlukan oleh industri sistem sering ditemukan di lokasi tertentu yang jauh dari tempat produksi, yang mungkin juga akan jauhdari tempat konsumsi terjadi, banyak sekali transportasi yang mungkin diperlukan, sehingga melibatkan lebih banyak energi dan bahan masukan.




3.       DESIGN for ENVIRONMENTAL (DfE / Design Untuk Lingkungan Hidup) dan
Life Cycle Assessment (LCA)

Beralih dari sudut pandang sumber daya ke sudut pandang produk, dua konsep tambahan dalam Ekologi Industri mempelajari mengenai daur hidup sebuah produk mulai dari proses ekstraksi sumber daya, fabrikasi produk, penggunaannya, pemanfaatan kembali, dan pembuangannya. Kedua konsep tersebut adalah Desain untuk Lingkungan Hidup (DfE / Design for Environment) dan Life-Cycle Assessment (LCA). Kedua konsep ini menitikberatkan pada besarnya dampak yang terkait dengan suatu produk terhadap lingkungan.
DfE melibatkan desain proses dan produk industry untuk meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Seringkali itu merupakan desain ulang produk yang sudah ada atau proses yang sudah dilakukan. Dapat difokuskan pada salah satu fase yang berbeda dari sebuah daur hidup produk, seperti desain untuk waktu pemakaian produk . Aktual aplikasinya bervariasi, termasuk di dalamnya adalah desain dari proses kimia, komponen elektronik, komponen mekanis, isolasi pendingin, yang tidak kalah pentingnya dengan desain kemasan. LCA melibatkan evaluasi dampak lingkungan dari suatu produk selama daur hidupnya berdasarkan informasi teknis rinci yang tersedia. Setiap tahap , mulai dari ekstraksi sumber daya dianalisa meliputi pembuangan residunya, ketersediaan sumber daya, emisi yang dihasilkan, kerusakan yang ditimbulkan. LCA sering digunakan untuk membandingkan dampak lingkungan antara suatu proses produksi / produk dengan suatu alternatif proses produksi / produk. LCA telah diterapkan untuk zat-zat seperti klorin dan aluminium, industry pertambangan, industri material seperti PVC, dan untuk alternatif penggunaan lahan pertanian. Studi LCA digunakan untuk mengukur emisi dan penggunaan sumber daya per kesatuan output atau jasa yang dihasilkan, termasuk kuantifikasi jumlah masukan yang diperlukan dari proses produksi yang berbeda, yang langsung didasarkan pada pengukuran atau teknik analisis. Model inventori ini secara umum mengabaikan kontribusi input non-fisik, seperti jasa akuntansi dan hukum atau grosir dan perdagangan ritel, dan tidak memperhitungkanimput dalam jumlah yang kecil. Untuk itu, beberapa penelitian juga membuat LCA dengan analisis input-output secara ekonomi untuk dapat menghitung beberapa hal yang diabaikan tersebut. LCA juga mencakup langkah penilaian dampak, di mana berbagai jenis emisi dikumpulkan untuk dikelola terkait sejumlah indikator yang menimbulkan masalah tertentu dalam hal pemanasan global atau toksisitas. Atau, penilaian dampak dapat didasarkan pada modeling kerusakan, misalnya efek kesehatan manusia diukur dalam tahun kehidupan yang hilang sebagai akibat dari keracunan dan perubahan iklim. Dengan mengetahui aliran material dan analisis jenis proses dan produk yang mempunyai dampak lebih kecil terhadap lingkungan, dapat disusun sebuah interaksi dari beberapa proses produksi yang saling berhubungan.


4.      PENERAPAN KONSEP EKOLOGI INDUSTRI

Aplikasi awal dalam konsep sistem ekologi industri adalah desain dan implementasi yang disebut ekosistem industri. Ekosistem industri ditandai oleh adanya simbiosis antar industri, yaitu suatu hubungan antara dua atau lebih perusahaan yang melibatkan pertukaran materi, energi, atau informasi dalam suatu cara yang saling menguntungkan. Model Ekologi industri mengarah pada pertukaran material antar sektor industri yang berbeda, dimana limbah dari salah satu industri tersebut menjadi cadangan bahan baku ( feedstock ) untuk industri lainnya .

5.      PENERAPAN EKOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA

Melihat besarnya manfaat pelaksanaan konsep ekologi industry seperti yang telah dijabarkan diatas, timbul pemikiran untuk menerapkan konsep tersebut di Indonesia. Apalagi jika melihat besarnya potensi industry dan agriculture Indonesia sebagai salah satu sector penyuplai bahan baku untuk beberapa industry, seharusnya konsep ekologi industry bias diintegrasikan secara sinergis. Dalam beberapa sector industry, ekologi industry sudah mulai diterapkan, namun belum maksimal. Maksimal disini berarti bahwa penerapan konsep ekologi industry belum sampai pada tahap 100% closed loop system.
Beberapa interaksi yang sederhana antar proses industry sudah mulai masuk ke dalam tahap implementasi, seperti contohnya :
a. Pembuatan kompos dari kotoran sapi.

Dalam konsep ini terdapat simbiosis antara peternakan sapi yang menghasilkan kotoran sapi dengan kompos plant yang mengkonversi kotoran sapi menjadi menjadi kompos. Untuk selanjutnya, kompos dapat dimanfaatkan kembali untuk pemupukan lahan pertanian untuk penyediaan pakan sapi. Dalam pembuatan kompos juga dihasilkan biogas yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk penyedia energy bagi rumah tangga atau industry-industri lain di sekitar peternakan sapu jika ada. Hasil peternakan sapi yang berupa daging, kulit dan tulang sapi pun digunakan sebagai sumber bahan baku industry-industri turunan yang potensial untuk dikembangkan. Secara sistematis, konsep ekologi industry untuk peternakan sapi dapat digambarkan sebagai berikut :
Untuk biasa diterapkan secara ideal, dibutuhkan beberapa modifikasi proses dalam konsep ini. Antara lain, peternakan sapi yang saat ini lebih banyak dikembangkan dengan cara tradisional, yaitu dilaksanakan per rumah tangga dan peggembalaan secara liar (sapi dibiarkan merumput di lapangan atau padang rumput), harus dirubah menjadi konsep peternakan terpusat, yaitu minimal 25 ekor sapi per peternakan.

Keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi ini diantaranya:

 ¾ Material Dengan dikembangkannya ekologi industri, hampir semua potensi/material dari hasil peternakan sapi dapat dimanfaatkan untuk industri lain dan berpotensi ekonomi. Energi ¾ Closing loop dalam pemanfaatan energi sangat optimal. Hasil kotoran ternak sapi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan biogas, yang kemudian digunakan untuk suplai energi industri turunan. Selain itu, pengadaan pakan untuk budidaya ternak dapat memanfaatkan pupuk organik dari sisa biogas. ¾ Lingkungan .
Dari sisi lingkungan hidup konsep ekologi industri dapat meminimalisasi dampak lingkungan berupa sisa pakan dan kotoran padat dan cair dari ternak sapi. Selain itu, polusi udara dari peternakan khususnya metana yang berdampak pada green house effect dapat diminimalisasi dengan pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas.
b. Pemanfaatan Lignosellulosa Limbah Bagasse Pabrik Gula untuk produksi Ethanol.

Selain berbasis peternakan, sektor lain yang berpotensi untuk pengembangan konsep ekologi industri di Indonesia adalah sektor pertanian. Dengan besarnya potensi pertanian, jumlah biomass yang dimiliki Indonesia juga sangat besar. Dan biomass ini dapat digunakan sebagai bahan baku industri yang berkonsep ekologi industri. Contoh biomass yang potensial dikembangkan adalah bagasse. Bagasse (ampas tebu) adalah adalah limbah padat industri gula tebu yang mengandung serat selulosa. Potensi bagasse di Indonesia cukup besar. Menurut data statistik Indonesia tahun 2002, luas tanaman tebu di Indonesia 395.399,44 ha, yang tersebar di Pulau Sumatera seluas 99.383,8 ha, Pulau Jawa seluas 265.671,82 ha, Pulau Kalimantan seluas 13.970,42 ha, dan Pulau Sulawesi seluas 16.373,4 ha. Diperkirakan setiap ha tanaman tebu mampu menghasilkan 100 ton bagasse. Maka potensi bagasse nasional yang dapat tersedia dari total luas tanaman tebu mencapai 39.539.944 ton per tahun . Selama ini ampas hanya digunakan sebagai bahan bakar boiler. Apabila Pabrik gula dapat efisien dalam penggunaan bahan bakar maka ada potensi ampas lebih. Potensi ampas yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk diproses sebagai produk turunan. Ampas yang kaya akan lignocellulosa (+45%) dapat diproses menjadi produk antara lain sebagai bahan baku ethanol melalui proses sakarifikasi dan fermentasi.
Penataan kawasan ekologi industri dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu diproses di industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta bagasse yang mempunyai komponen utama yaitu lignin, selulose, dan hemiselulose. Tetes tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol sedangkan serat selulosa dihydrolisis dan digunakan pula sebagai bahan baku industri penyulingan etanol. Industri penyulingan etanol dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan baku industri biogas. Effluen dari industri penyulingan etanol ini berupa sisa bagasse yang kaya akan lignin. Effluen industri penyulingan etanol digunakan sebagai bahan baku industry biogas yang menghasilkan energi yang dapat memasok kawasan tersebut dan menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos, untuk selanjutnya pupuk dapat dimanfaatkan sebagai penambah unsur hara pada pertanian tebu.  
Perhitungan Profit Secara Ekonomis

Apabila digunakan sebagai bahan baku alternatif industry etanol, ada beberapa kendala yang masih harus dihadapi yaitu karena selama ini ampas tebu digunakan sebagai energi utama pabrik gula. Oleh karena itu, apabila seluruh bagasse yang ada dimanfaatkan untuk industry etanol, maka perlu bahan bakar pengganti untuk pabrik gula, yaitu solar yang harganya saat ini cukup mahal. Namun, dengan perhitungan ekonomis sederhana, pemanfaatan limbah lignocelluloses menjadi ethanol lebih tetap menguntungkan daripada apabila hanya digunakan sebagai bahan bakar boiler.   Hal ini disebabkan karena penggunaan bio-ethanol yang lebih luas. Etanol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH adalah zat organik dalam kelompok alkohol dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan.
Bioethanol merupakan satu diantara energi alternatif yang relative murah ditinjau aspek produksinya dan relative ramah lingkungan. Bioetanol dapat digunakan mensubstitusi langsung atau bahan campuran premium. Selain itu, penggunaan bioethanol juga mempunyai manfaat lebih dari segi lingkungan, yaitu substitusi premium dengan etanol sebagai bahan bakar transportasi secara tidak langsung akan mengurangi emisi karbon dioksida, dan meningkatnya produksi bioetanol akan mendorong penanaman tanaman sehingga emisi karbondioksida yang dihasilkan akan terfiksasi melalui proses fotosintesis dari tanaman penghasil biomas (sejalan dengan konsep Ekologi Industri).
Berikut adalah perhitungan analisisnya :

Basis : 1 ton bagasse.

Jika satu liter solar harganya Rp 4500,-, sedangkan nilai kalor 1 ton bagasse kering setara dengan 598 liter solar, maka apabila dinilai dengan uang, 1 ton bagasse setara dengan Rp 2.691.000,- (untuk bahan bakar)
Jika setiap 1 ton bagasse menghasilkan + 47% bio-etanol dengan harga Rp 200000/20 liter, maka ,1 ton bagasse menghasilkan + 587,5 liter etanol Æ Rp 200000 x (587,5 liter/20 liter) = Rp 5.875.000,-(untuk bioethanol).
Sisa bagasse dari proses hidrolisis yang berbentuk padat sebesar + 53% (530 kg) masih dapat digunakan kembali untuk bahan bakar boiler atau diolah menjadi biogas dan kompos. Jika digunakan sebagai bahan bakar boiler, maka 530 kg bagasse setara dengan Æ (530kg/1ton) x 598 liter = 316 liter solar.
Kebutuhan solar yang harus dibeli untuk menggantikan massa bagasse yang hilang per ton adalah (598 liter – 316 liter) = 282 liter solar = Rp. 1.269.000,-.
Dilihat secara ekonomis, pengolahan bagasse untuk bahan baku industry etanol lebih menguntungkan daripada bagasse yang hanya langsung dipakai sebagai bahan bakar boiler. Dan pertimbangan ekonomis, saat ini merupakan indicator tambahan keberhasilan pelaksanaan ekologi industry, selain pertimbangan dari sisi environment dan efisiensi. Ekonomi merupakan salah satu factor keberlangsungan / sustainability sebuah industry, disamping factor ketersediaan sumber daya dan daya dukung lingkungan












Sumber :

1.      Focusing on the Environment from the Point of View of Resources, Products,
Industrial Systems and Eco-efficiency, Briefing Paper On Industrial Ecology and
EPA. EPA Industrial Ecology Workgroup. March 2001.

2.      Human Ecology : Industrial Ecology. Faye Duchin, Stephen H.Levine. Department of
Economic, Renselaer Polytechnic Institute. New York.

3.      Industrial ecology : Reflections on a colloquium. Jesse H. Ausubel. Presented at a
colloquium entitled “Industrial Ecology”, organized by C. Kumar N.Patel, held May
          20 and 21, 1991, at the National Academy of Science, Washington,DC.
4.      http://www.scribd.com/mobile/documents










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar